Senin, 05 Desember 2011

KERAJAAN PANJALU

Bagi yang belum mengetahui, Prabu Borosngora atau Sanghyang Borosngora adalah Raja Panjalu (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Ciamis Jawa barat) yang terkemuka. Di dalam Babad Panjalu diterangkan bahwa sang prabu kemudian memeluk Islam setelah menuntut ilmu di Mekkah kepada Sayidina Ali Bin Abi Thalib RA.  Sebagai cinderamata kepada seorang pangeran dari Panjalu, Sayidina Ali memberikan sebilah pedang, cis (tombak bermata dua atau dwisula) , pakaian kebesaran dan air zamzam kepada Sanghyang Borosngora.
Pedang pusaka dari Sayidina Ali ini sampai sekarang masih terpelihara, disimpan di Pasucian Bumi Alit dan disucikan atau dijamas pada setiap bulan Mulud (Rabiul Awal) dalam serangkaian upacara adat Nyangku. Sedangkan air zamzam dari Mekkah dijadikan air bibit untuk membuat Situ (danau) Lengkong di Panjalu.
Sanghyang Borosngora naik tahta sebagai Raja Panjalu menggantikan kakaknya Prabu Lembu Sampulur II lalu membangun kaprabon di Nusa Larang, sebuah pulau di tengah-tengah Situ Lengkong. Prabu Borosngora menurunkan dua orang putera yaitu Rahyang Kuning (Hariang Kuning) dan Rahyang Kancana (Hariang Kancana), di hari tuanya sang prabu lengser kaprabon dan menjadi mubaligh, menyiarkan agama Islam di Jampang (Sukabumi). Sumber Babad Panjalu tidak menerangkan dimana Prabu Borosngora dimakamkan setelah wafatnya.
Tahta Panjalu kemudian dipegang oleh anak tertuanya Rahyang Kuning, Rahyang Kuning kemudian digantikan oleh adiknya Rahyang Kancana. Rahyang Kancana mangkat dan dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong, sampai sekarang makam Prabu Rahyang Kancana selalu ramai dikunjungi para peziarah Islam dari seluruh Indonesia, termasuk almarhum Gus Dur.
Sisi menarik dari tokoh Prabu Borosngora dari Panjalu ini adalah adanya beberapa hal yang mengindikasikan kesamaan dirinya  dengan figur Prabu Bunisora atau Hyang Bunisora Mangkubumi Suradipati (1357-1371) dari Kemaharajaan Sunda.
Prabu Bunisora  adalah adik Maharaja Sunda bernama Maharaja Linggabuana yang gugur melawan pasukan Majapahit di palagan Bubat tahun 1357. Ketika itu putera mahkota Sunda, Niskala Wastu Kancana (adik Dyah Pithaloka) baru berusia sembilan tahun. Prabu Bunisora lalu diangkat sebagai wali bagi keponakannya itu atas tahta Sunda bergelar Hyang Bunisora Mangkubumi Suradipati, berkedudukan di ibukota Sunda, Kawali (Ciamis).
Prabu Bunisora mempunyai seorang puteri bernama Nay Ratna Mayangsari, sang puteri kemudian diperisteri Niskala Wastu Kancana (1371-1475) yang kemudian meneruskan tahta Sunda sebagai Maharaja di Kawali.
Prabu Bonisora setelah menyerahkan tahta kepada keponakannya hidup sebagai brahmana (pendeta, begawan, petapa, resi) yang sangat disegani di Jampang bergelar Batara Guru di jampang. Prabu Bunisora kemudian wafat dan dimakamkan di Geger Omas.
Keponakannya, Niskala Wastu Kancana setelah wafat dimakamkan di Nusa Larang.
Apakah Prabu Sanghyang Borosngora Raja Panjalu adalah Prabu Hyang Bunisora Mangkubumi Suradipati?
Ada beberapa hal yang mengindikasikan bahwa Prabu Borosngora adalah Prabu Bunisora:
1. Kemiripan lafal nama: Sanghyang Borosngora dengan Hyang Bunisora, dalam penyampaian kisah ataupun berita perbedaan pengucapan sering kali terjadi, misalnya: Rahyang dengan Hariang, Adipati dengan Dipati, Pucuk Umun dengan Pucuk Umum, Batara Semplak Waja dengan Batara Sempak Waja dan Batara Cepak waja, dlsb, padahal semuanya itu menunjukkan pada satu maksud yang sama.
2. Secara geografis Panjalu berbatasan langsung dengan Kawali (ibukota Kemaharajaan Sunda) sehingga wajar bila ada kaitan yang erat antara keduanya. Panjalu sendiri adalah salah satu kerajaan yang bernaung dibawah Kemaharajaan Sunda. Sangat dimungkinkan dalam sistem politik dan kenegaraan pada jaman itu bila Maharaja Linggabuana naik tahta sebagai Maharaja Sunda, sedangkan adiknya yaitu Hyang Bunisora diangkat sebagai Raja Panjalu.
3. Prabu Borosngora di hari tuanya menjadi mubaligh penyiar Islam di Jampang, sedangkan Prabu Bunisora setelah lengser kaprabon hidup sebagai brahmana bergelar Batara Guru di Jampang.
4. Prabu Bunisora Mangkubumi Suradipati dimakamkan di Geger Omas, belum diketahui secara pasti dimana letak Geger Omas, tetapi di Kecamatan Panjalu Ciamis terdapat sebuah desa yang berbatasan dengan Kecamatan Kawali bernama Desa Ciomas. Ciomas pernah menjadi ibukota Panjalu pada masa pemerintahan Rahyang Kancana sampai dengan Arya Wirabaya, tepatnya di Dayeuh (kota) Nagasari.
5. Di Desa Ciomas ini terdapat makam karomah leluhur:  Dalem Panghulu Gusti dan Dalem Mangkubumi, nama Dalem Mangkubumi kembali mengingatkan kita dengan nama Hyang Bunisora Mangkubumi Suradipati.
6. Menurut Babad Panjalu, tokoh yang dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong adalah Prabu Rahyang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora, sedangkan menurut catatan Sejarah Sunda tokoh yang dimakamkan di Nusa Larang adalah Niskala Wastu Kancana (1371-1475) keponakan sekaligus menantu Prabu Hyang Bunisora Mangkubumi Suradipati (1357-1371).
Jadi, apakah Prabu Borosngora dan Prabu Bunisora adalah pribadi yang sama? Sayang sekali sampai sekarang saya belum menemukan hasil penelitian ataupun data-data yang shahih (valid) yang bisa memastikan bahwa Prabu Borosngora adalah Prabu Bunisora, tetapi hal ini juga tidak menutup kemungkinan bahwa keduanya adalah tokoh yang sama, perlu pendalaman lebih lanjut untuk memastikan dugaan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar